Perkenalan saya dengan dunia blogger diawali sekitar dua tahun silam. Berawal dari penasaran dan ingin coba-coba, saya mulai posting blog-blog pribadi yang sebagian besar isinya cuma “curcol” – curhat colongan - atau sekedar copy-paste lirik lagu yang lagi happening saat itu. Kalau boleh jujur sih, blog saya isinya sampah doang, nggak bermutu, dan cengeng. Isinya cuma marah-marah dan maki-maki orang, curhatan sakit hati, atau keluhan-keluha hidup a la “Ababil” *ABG Labil.
Saking banyaknya postingan-postingan pribadi yang nggak penting itu, blog saya dibilang nggak bagus dan dikritisi oleh salah seorang teman saya yang kebetulan adalah seorang experties dalam hal blog-blogan. Saya diajarkan bagaimana etika dan aturan nge-blog yang baik dan tentunya menghasilkan sebuah postingan yang berbobot.
Akan tetapi, biarpun teman saya sudah mengajarkan teknik-teknik menulis blog dengan mumpuni dan benar, toh,saya tetap mengulangi kesalahan yang sama – curhat colongan – yang akhirnya menuai kontroversi dari banyak orang. Beberapa diantaranya adalah orang-orang yang menjadi obyek curhatan dan sasaran aksi brutalisme saya secara verbal. Parahnya, orang-orang rumah juga membaca hasil postingan saya. Ibu, kakak, dan adik keponakan sampai tega berkomentar yang tidak-tidak soal hasil postingan ndak mutu itu.
Sejak saat itu, saya total berhenti posting tulisan di blog. “Nggak ada gunanya curcol atau posting sesuatu di blog, wong tulisanku yo paling nyampah kabeh!”, batin saya. Blog WordPress.com saya telantarkan begitu saja, sampai suatu saat saya iseng buka-buka lagi postingan curcol yang nggak cool itu
Sampai pada suatu hari, karena lagi iseng browsing internet. Saya buka lagi blog usang yang tidak tersentuh selama beberapa bulan itu. Dan alangkah kagetnya saya waktu baca komen dari salah satu obyek penderita blog – siapa lagi kalo bukan mantan pacar yang saya etrek-etrek *ancur-ancurin, jeleki-jelekin* di berbagai kesempatan. Dia hanya mengirimkan satu komentar yang singkat, padat, tapi ngena sekali di hati *hohohoho. Dia hanya mengucapkan permohonan maaf atas segala kesalahan dan tingkah lakunya yang pernah menyakiti saya. Sejak saat itu, saya tidak pernah lagi menulis blog tentang si Dia. Saya lebih senang menulis soal wisata kuliner atau kegiatan kampus / perkuliahan. Menulis blog *walaupun dengan teknik yang se-adanya* membuat saya belajar untuk menugekspresikan apa yang ada di dalam kepala, otak, dan pikiran saya.
Kedepannya, saya pengen lebih rajin update blog dan posting hal-hal yang menarik yang bisa saya share bareng blogger-blogger yang lain. Setidaknya, blogging bisa jadi ajang pembelajaran positif bagi kegiatan tulis-menulis yang sering dilakukan oleh mahasiswa seperti saya. Hehehe.
*penulis adalah newbies yang masih belajar cara ngeblog dengan baik, sistematis, dan bermutu tentunya..
regards.
- Aldi Triyanto -